Minggu, 23 Oktober 2011

Sang Penari (2011)




"Jadi ronggeng itu bukan cuma urusan perkara nari saja.” - Nyai Kertaredja
Saat kecil, Srintil dan Rasus sering menonton pertunjukan Ronggeng di dusun mereka, Dukuh Paruk. Melihat keanggunan seorang Ronggeng, Srintil kecil bercita-cita menjadi seorang Ronggeng. Saat dewasa, Srintil dan Rasus yang bersahabat sejak kecil pun saling jatuh cinta. Namun cinta mereka tidak dapat dipersatukan karena Srintil dinobatkan sebagai seorang Ronggeng yang menjadi cita-citanya sejak kecil. Menjadi seorang Ronggeng, berarti Srintil menjadi milik seluruh desa Dukuh Paruk dan harus mengabdikan diri kepada leluhurnya, jiwa dan raga. Rasus yang tidak dapat bersama dengan Srintil akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan TNI untuk melupakan cintanya terhadap Srintil.

Rasus menghilang dari kehidupan Dukuh Paruk dan memutuskan tinggal di lingkungan tentara, sedangkan Srintil sibuk dengan kehidupannya sebagai Ronggeng.

Dukuh Paruk merupakan daerah yang terpencil, sebagian besar penduduknya tidak tahu baca dan tulis sehingga mudah dibodohi oleh Tuan2 tanah dan mandor perkebunan lokal. Kemudian seorang pemuda dari kota bernama Bakar datang ke Dukuh Paruk untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Dengan membawa nama Serikat Tani, paham komunis mendekati warga Dukuh Paruk untuk menggalang suara bagi partainya. Namun disinilah awal penderitaan sesungguhnya bagi warga Dukuh Paruk.
Saat G30S PKI pecah, kekacauan muncul dimana mana, pemberantasan terhadap oknum-oknum PKI pun dimulai. Seluruh daerah jawa disisir, tak terkecuali Dukuh Paruk yang memang menjadi salah satu daerah binaan PKI. Pembantaian terhadap oknum-oknum PKI pun dimulai. Rasus yang saat itu juga terlibat dalam pembantaian PKI pun tidak dapat menahan keinginannya untuk mencari keberadaan Srintil. Mengantongi ijin dari atasannya, Rasus mencari jejak keberadaan Srintil. Usaha Rasus untuk mencari Srintil tidak mudah dan memakan waktu yang lama. Pada akhirnya nasib memepertemukan mereka, namun keadaan sudah sangat berubah sehingga mereka memilih mengambil jalan masing-masing.


Overall, saya suka dengan film ini. Mengambil setting tahun 1960-an. Walaupun intinya tetep cecintaan antara dua tokoh utama, tapi rasa 'jawa'nya, kekentalan budayanya terasa banget. Suasana pedesaan di pedalaman Jawa yang saat itu memang nyaris tidak tersentuh peradaban modern, dimana masyarakatnya masih menganut kepercayaan kuno. Saya merasa benar-benar terbawa ke suasana pedesaan Jawa jaman dulu. Setting persawahan yang masih alami, jejeran gubuk desa yang berlantaikan tanah dan tembok anyaman, serta sesajen di makam leluhur berhasil menciptakan atmosfer kuno di film ini, well kalau itu memang tujuannya. Akting-akting pemainnya juga oke banget. Walaupun bahasa jawa-nya masih agak terasa kaku di beberapa bagian (bok gue jawa yahh...), tapi bisa banget diterima lahh.... Terutama buat Prisa Nasution dan Oka Antara yang berhasil menunjukkan passion of love antara Srintil dan Rasus. Jadi ikut merasakan pedihnya, patah hatinya mereka berdua karena tidak bisa bersama.
Oh iya, hampir lupa, akting Slamet Rahardjo dan Dewi Irawan yang memang sudah senior tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dengan budaya Ronggeng yang menurut saya agak, maaf, merendahkan wanita itu, akting mereka bisa membuat saya paham dimana letak 'keistimewaan' Ronggeng di mata budaya Jawa saat itu dan mengerti kenapa dibanggakan banget. But still yaa... miris lihatnya. Apalagi adegan urut saat luluran itu....huhuuu jahat deh L



Yang menurut saya agak kurang dari film ini adalah...LAMA. Bukan lama durasinya, tapi alurnya sedikit agak lambat. Saya masih bisa nih, bbm-an lancar dan tetap merasa 'oh masih yg ini ya?' bbm-an sambil nonton itu jarang saya lakukan, tapi saya kok malah nyari-nyari bb ya? Hehee. Penggambaran sejarahnya juga tanggung sih yaa.... Penonton harus mempunyai background pengetahuan sejarah dan politik yang cukup baik kalau ingin paham tema politik yang digambarkan di film ini. Ya kan penonton awam bisa bingung aja ... Ada orang mau ngebantuin desa supaya maju, trus genteng2 ditandai organisasi tertentu. Lalu tiba-tiba tentara menyebut Dukuh Paruk sudah 'merah' dan di radio ada jendral dibunuh, trus tiba-tiba pada ditangkap. Coba pas pembantaian ada adegan yang masyarakat ikut membasmi PKI yang tusuk2 bunker...eh?kejadian itu di Jatim ya? Hahaha beda setting tweeps, maaf. Heheee

Ronggeng yang sebelum Srintil, Mbak Happy Salma, cuantikkk yaaaaa. Eksotis abis, Indonesia sekali, sexinya ala Jawa banget. Dan saya baru tau kalo ternyata Happy Salma itu Sunda.... tapi bisa banget jadi putri jawa ya...



Kalau ditanya ini reccomended atau enggak ... saya tetap bakal bilang film ini RECCOMENDED kok, walaupun memang agak berat. Nilai budayanya kental banget, Music scoringnya oke – jawanya dapet, feelnya pas banget dengan emosi film ini , ceritanya juga bagus banget dan beberapa kekurangan yang saya ceritain diatas gak akan mengganggu kepuasan nonton film ini kok. It was just an opinion of me. Kalau lagi cari film untuk yang pure untuk hiburan , mungkin kurang cocok sih yaa... daripada pulang dengan keadaan nauseous. Hehee

Oh iya....Tanggal 10 November, film Sang penari akan tayang secara resmi di bioskop Indonesia. Jangan dilewatkan yaa


Director        : Ifa Ifansyah
Casts            : Oka Antara, Prisa Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo


Moviegeek Rate :
  1. It's a must see!!
  2. Film ini seruu..
  3. Bagus loh
  4. Lumayan deh buat weekend.
  5. Pinjem dvd-nya aja.
  6. Mending tunggu filmnya maen di tv.






Sabtu, 22 Oktober 2011

Midnight In Paris (2011)





That Paris exists and anyone could choose to live anywhere else in the world will always be a mystery to me. - Addriana


Gil Pender (Owen Wilson) adalah seorang penulis skenario sukses yang sedang berusaha menyelesaikan novel pertamanya, namun mengalami writer's block (toss dulu). Ia dan tunangannya Inez (Rachel Mcadams) sedang berlibur ke Paris, menemani orang tua Inez yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota tersebut.
Gil dan Inez memiliki pandangan yang berbeda mengenai romantisme Paris. Gil mengagumi suasana Paris di jaman 1920-an dan selalu membayangkan hidup di jaman tersebut yang ia sebut sebagai The Golden Age. Gil selalu bercerita kepada Inez, bagaimana romantisnya Paris saat hujan di malam hari, dan bagaimana ia membayangkan suasana tersebut saat tahun 1920-an. Bagi Inez, apa yang dipikirkan Gil adalah hal yang tidak masuk akal dan membuang-buang waktu.
Pada awalnya, liburan berjalan biasa saja sampai suati hari secara kebetulan mereka bertemu dengan teman Inez semasa kuliah namun Gil sedikit kesulitan untuk bisa bergaul dan beradaptasi dengan teman Inez karena Paul selalu bersikap seakan paling tahu segalanya mengenai kehidupan Prancis. Sampai pada suat malam, sehabis Gil, Inez, Paul dan Carol makan malam mereka berencana pergi ke club, namun pada malam itu Gil tidak tertarik dan memilih untuk kembali ke hotel. Dalam keadaan setengah mabuk, Gil tersesat di tengah kota Paris. Karena kelelahan Gil akhirnya bersitirahat di tangga masuk sebuah gereja. Tepat pada saat jam 12 malam, lonceng gereja berbunyi dan datanglah sebuah mobil kuno yang kemudian membawa Gil ke petualangan kota Paris yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sebuah kejadian tak terbayangkan yang membuat Inez dan keluarganya justru menganggap Gil adalah orang yang aneh dan delusional dengan cerita-cerita anehnya itu. Akhirnya Gil memutuskan untuk menjalani Midnight In Parisnya seorang diri, tanpa Inez.
Mereka berdua pun semakin tenggelam dalam kehidupan mereka masing-masing. Inez bersama keluarga dan teman-temannya. Sedangkan Gil sibuk dengan petualangan barunya di Paris.


Midnight In Paris. ROMANTIS. Titik!
This movie describe the best, tentang romantisme Paris melalui sudut pandang yang berbeda. Menyorot romantisme dan passion kota paris dari satu jaman ke jaman yang lain. Mengangkat tema Golden Age. Romantisme Paris ini begitu terasa didukung dengan akting yang oke dan ,,, i dont know (gak ngerti istilah filmnya),, pengambilan gambar yang menurut saya cantik. Very vintage, clean, dan cantik ... bikin saya langsung jatuh cinta sejak opening film ini, bahkan dengan ilustrasi Paris di malam hari dengan lampu-lampu jalan, diiringi musik prancis daaan HUJAN!!!
Hujan dan Paris.. kurang romantis apa coba? Jadi bikin saya pengen nanya sama kamu, kapan ajak aku kesana?(*eh? #kode kok disini hahaha)

And this Golden Age theme, bikin saya, well .. , bertanya tanya : kalau di Indonesia, Masa apa yang akan saya anggap sebagai the golden age of Indonesia? Since every era ini this country only lasted not too long and each has their own fatal crisis. (32 tahun masa orde baru, saya anggap tidak cukup panjang untuk sebuah era yang stabil bcs IMHO they all were ,,almost,,fake). Eh, kenapa jadi serius gini ya?
Gak ding..gak sedramatis itu. Tapi iya, romantisme dan seni di masa itu lebih terasa. Jaman segitu kan masih belum ada gadget yang bisa bikin kita lupa sama sekitar. I mean look at us now ... gak pegang bb semenit kayak orang bego. Kemana-mana nenteng Ipad. Berkarya via instagram, Adobe Photoshop. Yah bukannya gak bagus, tapi jadi gak fokus sama sesuatu yang sifatnya basic. Pensil dan kertas. Dulu... sebelum saya menggunakan smart phone, saya selalu bawa notes kecil dan pensil. Ada aja yang digambar atau ditulis kalau lagi iseng. But then the gadgets came into my life..dan kebiasaan itu hilang sejak saya punya laptop yang agak kecilan. Eh, kenapa jadi ngomongin beginian ya?

Maaf ya, gini nih kalau nulis di tengah hujan, di teras rumah pula, dingin semriwing, pikiran kemana mana.hehee
Oke back to the movie talk then...
Di film ini akan banyak sekali tokoh terkenal yang mewarnai Midnight In Parisnya si Gil. Gak akan saya ceritakan disini, karena bagian-bagian itu memang sudah seharusnya menjadi kejutan di film ini. Setiap kejutan yang ditampilkan sama om Woody Allen di film ini, tiap orang-orang penting itu muncul, saya secara refleks bilang 'wow' dan tersenyum sepanjang film. It was just AWESOME.

Oh iya, difilm ini juga ada Carla Bruni. Cantik ya.... ibu negara Prancis ini, dulunya supermodel ya kalo gak salah and also a singer. Anggun sekali... (tanpa mengingat kelakuannya jaman muda ya ... *mendadak gosip) –semoga ini tidak termasuk spoiler.

IMHO, film ini highly reccomended! beneran nonton deh...dijamin gak rugi. Karena film ini akan memanjakan mata dan hati kamu mulai dari awal sampai akhir. Belum lagi kejutan kejutan yang akan muncul. I am totally speechless.


Director        : Woody Allen
Casts            : Owen Wilson, Rachel Mc Adams, Michael Sheen, Carla Bruni, Kurt Fuller


Moviegeek Rate :
  1. It's a must see!!
  2. Film ini seruu..
  3. Bagus loh J
  4. Lumayan deh buat weekend.
  5. Pinjem dvd-nya aja.
  6. Mending tunggu filmnya maen di tv.
     

 

The Starry Night ... kalo gak salah Vincent van Gogh


love the background






pojok kiri atas, pendar lampunya berbentuk hati. Romantis ya...

Minggu, 11 September 2011

Review : Tendangan Dari Langit (2011)


"Who is Irfan Bachdim?  ... "  - Hendro (Giorgino Abraham)

Tinggal di daerah terpencil tidak membuat Wahyu (Yosie Kristianto), anak muda dari Desa Langitan, melupakan mimpinya bermain Sepak Bola di lapangan besar. Dengan segala keterbatasan lingkungan, ekonomi(termasuk tidak punya sepatu bola) tidak membuat Wahyu kehilangan semangat berlatih sepak bola. Dengan bakatnya, tim kampung setempat pun melirik Wahyu untuk bermain sepak bola dengan diberi bayaran. Namun Pak Darto (Sudjiwo Tedjo),ayah Wahyu, sangat menentang Wahyu untuk bermain sepak bola. Sehingga tidak sedikit hukuman yang ia terima dari ayahnya setiap ketahuan bermain sepak bola.
Kecintaan Wahyu kepada olah raga inilah yang membuat Wahyu tetap bertekad bermain bola walaupun mendapat larangan keras dari Sang Ayah. Wahyu sempat mengalah dan mengikuti perintah ayahnya untuk berhenti bermain sepak bola, tapi dengan kesabarannya Wahyu perlahan-lahan dapat melunakkan hati ayahnya agar ia diijinkan kembali bermain sepak bola. Keberuntungan pun berpihak pada Wahyu, takdir mempertemukan Wahyu dengan pelatih Persema dalam sebuah kejadian yang tidak disengaja. Saat Coach Timo dan Mathias Ibo sedang jogging di lereng Gunung Bromo, secara tidak sengaja mereka melihat Wahyu dan Ayahnya sedang berlatih, dan kemudian memutuskan mengundang Wahyu untuk try out dengan Persema.
Kesempatan try out inilah yang pada akhirnya membuka jalan bagi Wahyu untuk masuk ke dunia persepakbolaan. Apakah Wahyu dapat meraih mimpinya menjadi pemain professional? Well the answer is on the movie. Makanya yukk ditonton yuukkk... J
 ---
Film ini keren cuk!! Jancuk yoo!! astaghfirlah...anak cewek gak boleh misuh2... 0:) *self toyor* hehee
Well, overall film ini bagus. Akting pemainnya mantap (Bachdim dan Kurniawan gak dihitung ya, mereka itu nampil gak akting), yang salut banget justru akting si Yosie (pemeran Wahyu) sendiri. Pendatang baru tapi benar-benar bisa menonjolkan nyawa dari tokoh yang diperankan dan gak cuman itu, skill bermain bolanya juga lumayan oke sehingga saat harus bermain dengan pemain bola professional seperti Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, Yosie masih bisa mengimbangi. Yosie benar-benar berhasil meyakinkan saya kalau dia bisa bermain sepak bola. Film ini juga dipermanis dengan penampilan Maudy Ayunda yang emang manisnya bikin melting cowok2 dan bikin sirik cewek2 seIndonesia. Ditambah penampilan sahabat-sahabat Wahyu yang diperankan oleh Jordy Onsu dan Joshua Suherman sukses bikin ngakak, kombinasi yang pas antara teman yang hiperbola ,freak dan kebangetan puitisnya.
Yang paling outstanding disini tentu saja Kanjeng Sujiwo Tedjo dengan Jancuk’annya...Dewa Jancukers ini emang gak pernah setengah-setengah kalau urusan Jancuk’an. Yang orang Jawa Timur atau mereka yang follower account twitter @sujiwotejo pasti ngakak habis-habisan setiap liat Kanjeng satu ini mengeluarkan C*k bomb-nya. Parah!! But,,that’s how things going on in East Java.. Sebagai orang Surabaya, saya sih maklum-maklum saja... hehee
Uhmm...dari segi akting sih sudah oke. Trus ceritanya gimana? Sebenarnya ide cerita film ini sudah oke banget...alurnya juga mudah diikuti dan tidak membuat penonton bingung. Hanya saja, di beberapa bagian cerita yang menurut saya penting (sengaja tidak saya sebutkan karena takut spoiler), eksekusinya justru kurang mengena sehingga mengurangi makna cerita itu sendiri. Dan ada beberapa joke di beberapa bagian yang saya kurang suka, agak sedikit garing gitu. Tapi keseluruhan sudah oke banget kokk.... Dan film ini emang wajib tonton sih. Rugi banget kalau sampai tidak sempat melihat pemandangan di lereng Gunung Bromo dan sedikit gambaran keadaan masyarakat disana. Rugi gak liat muka ganteng Bachdim dan Kurniawan nampil di film (nyaris) tanpa dialog, zZzZzz hahahaa...
Mas Hanung, oke nih filmnya... Good job!

Directed by    : Hanung Bramantyo
Casts             : Yosie Kristianto, Maudy Ayunda, Sujiwo Tejo, Agus Kuncoro
My Rate :
1.    It’s a must see!!
2.    Film ini seruu..
3.    Lumayan deh buat weekend.
4.    Pinjem dvd-nya aja.
5.    Mending tunggu filmnya maen di tv.

what a great view, Indonesia
Nice outfit, Kim. Cocok masuk majalah fashion lol

ahh...speechless. <3

Senin, 29 Agustus 2011

Eid Mubarak 1432 H


Assalamualaikum...

Alhamdulillah...
We've been through another year of blessing.
Now, another Ramadhan has passed and a celebration has come.
A bright new day.
Enlightened our soul with Love.
Create peace, togetherness and smile among us.
Purify the heart with an apology.

For all mistakes i've made.
For all the hearts that i've broke. hehee
For all the wrong acts and words i've made to you.
From the bottom of my heart, i ask an apology.
Let we start over again with a pure heart and a clear path.

Ied mubarak everyone...
May this Idul Fitri will bring happiness to everyone of us.
Amin Ya Rabbal Alamin.

Wassalam.

Surabaya, August 30th 2011

Sabtu, 02 Juli 2011

Red Riding Hood (2011)





 “To chose life of honor, protecting life from darkness”


Selama bertahun tahun kehidupan Daggerhorn dihantui oleh keberadaan serigala yang suka memangsa korban. Sehingga tiap bulannya mereka mengorbankan ternak terbaik mereka agar serigala tidak menyerang penduduk desa.
Valerie (Amanda Seyfried) tinggal di desa bernama Daggerhorn. Dia jatuh cinta kepada Peter (Shiloh Fernandez), namun orang tuanya menjodohkan Valerie dengan Henry (Max Irons) yang berasal dari keluarga kaya. Valerie berencana lari bersama Peter, namun sebuah kejadian mengejutkan membatalkan niatnya. Saudara Valerie, Lucie,  dibunuh oleh serigala. Seluruh desa berduka dan marah. Para pria Daggerhorn pun memutuskan untuk memburu sang serigala. Mereka berhasil membunuh seekor serigala, namun mereka menangkap serigala yang salah. Sejak hari itu teror werewolf di Daggerhorn semakin menjadi-jadi. Valerie yang ternyata dapat berbicara dengan werewolf pun akhirnya  dikorbankan dan dijadikan umpan untuk menangkap werewolf.


Film ini unik. Sejak awal melihat trailernya, dalam hati saya sudah mengincar film ini. I actually love the idea and the story as well. Dongeng anak-anak terkenal Little red riding hood diubah menjadi cerita fiksi di layar kaca dalam format yang lebih dewasa, vintage dan gelap. Ditambah kisah cinta segitiga antara Valerie, Peter dan Henry yang jadi pemanis film. Favorit saya di bagian akhir film di tepi sungai. Tiba-tiba saja saya tersenyum teringat buku-buku cerita saya di masa kecil, i totally loovee that scene. Tapi saya harus mengakui bahwa sepertinya masih banyak yang harus ditambal sana sini. Singkatnya film ini seperti masakan kurang bumbu. Sayang sekali dengan konsep cerita yang keren seperti itu. Film ini jugalah yang membuat saya mendadak pengen merancang hoodie coat berwarna merah buat dipakai ke kantor pas musim hujan. (lah kok malah bahas fashion? *dijitak rame rame*).

Gak banyak yang bisa saya bahas, nanti takut spoiler. Tapi kalau ditanya apakah saya suka film ini? Jawabannya, iya saya suka film ini. Kalau ditanya bagus atau enggak, maybe i’ll give 70% ya..maaf ya Mbak Manda, your performance was great as always kok (kayak kenal gitu...hehee).
Eh, it been a while ya...since my latest update. Or should i say, it's been so looonggg. hehehe (sambil ngelirik tanggal di postingan bawah)
Anw glad to be back. 

Score               : 7/10

Director           : Catherine Hardwicke
Casts               : Amanda Seyfried, Lucas Haas, Gary Oldman, Shiloh Ferdandez

Senin, 15 November 2010

Workshop Kreatif : MENULIS FIKSI (by @fiksimini )

 

WORKSHOP Kelas Kreatif - MENULIS FIKSI - dari Komunitas Fiksimini , bersama penulis-penulis fiksi ternama (Clara Ng, etc)

SURABAYA 27 Nov 2010, di House of Sampoerna, 09.00-18.00 wib
Info dan Pendaftaran ke @fardania (twitter) - 08113434037 (phone)


Fiksimini is back on action!! 

Fiksimini sekarang gak cuman komunitas online yang gemar memposting fiksi 140 karakter di twitter. Komunitas ini dengan cepat meluas melalui media online, dan membawa aura kreativitasnya ke dunia nyata.
Gak hanya membuka pertemanan baru, komunitas ini juga aktif mengadakan kegiatan sosial dan edukatif lainnya.

Buat follower @fiksimini atau yang gemar membaca novel, pasti tidak asing lagi dengan penulis Indonesia Clara Ng.
Kalau kamu pengen tau cara mengembangkan bakat menulis kamu dan belajar menulis dengan fun, datang aja ke acara "Menulis Fiksi bersama komunitas @fiksimini Surabaya".
Hanya dengan Rp 100.000, kamu bisa mendapat ilmu dari ahlinya dan sekaligus mendapatkan paket2 seru lainnya.

BURUAN DAFTARR!!!

Minggu, 03 Oktober 2010

Moviegeek present: Interview With Lukman Sardi


pic taken from here

14 September 2010 yang lalu, secara tidak sengaja saya bertemu Lukman Sardi yang sedang makan malam di Sutos. Tadinya saya pengen menghampiri meja Lukman Sardi dan rombongan di Malay Village, tapi sungkan karena mereka kan mau makan. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, tiba-tiba saya melihat Lukman Sardi berjalan ke arah toilet dan saya yang sedang berada di sekitar jalur Malay Village - toilet dengan kepedean menyapa Lukman Sardi sekalian minta foto bareng (mau ngatain saya norak?biarin!! yang penting saya senang *hahaha). Saya dan teman saya suprise banget karena ternyata orangnya ramah luar biasa, saya juga sempat menyinggung tentang review Sang Pencerah di blog ini dan ternyata mas Lukman Sardi bersedia membaca postingan di blog saya yang super sederhana itu. Hohoho.
Dari kejadian malam itu, entah kenapa saya kepikiran untuk menginterview seorang Lukman Sardi. Proposal interview via twitter pun dimulai. Mention pertama, sepertinya gak terbaca (maklum kalo follower banyak, pasti banyak juga mention yg kelewatan), saya nunggu, lama hampir nyerah juga tapi temen2via bbm support saya supaya ‘ngejar’ terus. Mention kedua, belum juga. Mention ketiga, dijawab, dan jawabannya IYA!! (respon spontan : lompat-lompat, guling-guling, ketawa-ketawa sendiri). Interview dilakukan via email, dan beberapa hari kemudian saya pun mengirim email ke Johnny Depp-nya Indonesia itu, dan dibalas oleh Lukman Sardi beberapa hari kemudian. Kalau dihitung dari waktu Lukman Sardi membalas email saya sampai poastingan ini keluar, agak lama ya? Maaf ya..saya belakangan ini lagi hectic ,banget bahkan mau nonton di bioskop aja gak sempat. Maafkan....*memohon-mohon* J
Interview ini lebih banyak membahas tentang film Sang Pencerah, padahal film terbaru Lukman Sardi ada dua, Sang Pencerah dan Darah Garuda. Hanya saja, waktu saya menyusun pertanyaan interview ini, saya belum sempat menonton DarahGaruda jadi saya hanya membahas Sang Pencerah saja. J

Dan, ini dia... hasil interview Moviegeek dengan seorang Lukman Sardi. Semoga moviegoers suka ya.. Please enjoy....
MG : Film sang pencerah menceritakan tentang kehidupan pahlawan besar bangsa yang sudah pasti menginspirasi banyak orang. Dalam memerankan beliau, tantangan terbesar apa yang dihadapi?
LS : Tantangan terbesarnya adalah menghilangkan beban di  diri saya. Awalnya saya sangat terbebani karena yang ada di kepala saya, beliau adalah pahlawan nasional, pendiri Muhammadiyah, dll sehingga ini menghambat saya untuk lepas dalam berekspresi dan bereksplorasi. Akan tetapi akhirnya saya mengubah cara pandang saya, bahwa beliau manusia biasa yang sama dengan saya, yang punya rasa takut, sedih, marah, senang, kegelisahan dlll, tapi beliau mempunyai pemikiran yang luar biasa.
MG : Dialog/adegan apa yang peling berkesan selama memerankan seorang KH Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah?
LS  : Hampir Semua dialog di film ini berkesan buat saya karena mempunyai kedalaman makna walaupun terdengar sederhana.
MG : Sebagai pemeran tokoh K.H.Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah, apa yang seorang Lukman Sardi harapkan dengan adanya film ini terutama bagi masyarakat Indonesia?
LS : Yang saya harapkan dari film ini adalah semoga film ini bukan hanya menjadi tontonan semata atau hanya menjadi sebuah slogan, tapi bisa menginspirasi  kita untuk berbuat sesuatu yang positif dimulai dari lingkungan terdekat kita, dan juga agar masyarakat kita lebih menghargai pahlawannya.
MG : Karir seorang Lukman Sardi sebagai seorang aktor sangat cemerlang. Menurut saya, akting di setiap film selalu total dan berhasil membawa nafas baru di tiap karakter yang diperankan. Jadi pengen tau, siapa sih inspirator seorang Lukman Sardi yang memotivasi sehingga akting di tiap film selalu memukau?
LS : Terima kasih atas apresiasinya. Yang menjadi inspirator saya adalah keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik, dan hal ini saya dapatkan dari ayah saya. Beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal, sehingga apa yang kita perbuat di dunia ini bisa kita pertanggung jawabkan dan memberikan warisan yang baik buat anak cucu.
MG : Diantara semua film yang pernah terlibat di dalamnya sbg pemain, film apa yang paling berkesan?
LS : Buat saya, semua film yang saya mainkan berkesan karena setiap film yang saya terlibat di dalamnya adalah karena saya menyukai dan mencintainya, tidak ada yang karena terpaksa, sehingga selalu meninggalkan kesan yang mendalam.
MG : Kalau ditanya soal film favorit diantara semua film yang pernah ditonton. Film apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Dan kenapa suka banget sama film itu?
LS : Untuk sekarang ini saya sangat menyukai film La Grand Voyage. Sebuah film yang menceritakan perjalanan seorang bapak dan anak, dimana si anak harus mengantarkan ayahnya dari Paris ke Mekkah untuk naik haji melalui perjalanan darat. Mungkin temanya sangat sederhana, tapi makna dari film ini sangat dalam sekali. Kalo kamu belum nonton  coba cari DVDnya dan segera tonton. It’s a great movie.  
MG : alhamdulillah,saya sudah nonton mas. Dan saya setuju, film ini emang bagus banget. Dalem banget. Gak cuman wajib nonton tapi DVDnya juga layak jadi koleksi (tp saya blm dapet dvd-nya ).  *serius* ( yang ini cman respon moviegeek aja, i never directly said this to him. Hehehe)
LS : Thanks  dan selalu kritis ya..

Waktu meminta izin ke Lukman Sardi untuk interview ini via twitter, saya janji hanya akan ada 5 pertanyaan. Tapi kalau dilihat di atas kok ada 6? Itu karena, pertanyan no.1 dan no.2 sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang kemudian dipisah jadi dua di postingan ini supaya lebih jelas. Sebenarnya moviegeek masih punya banyak pertanyaan buat Lukman Sardi, tapi dengan pertanyaan-pertanyaan diatas sudah bersyukur banget (i have to keep my words,rite?), Lukman Sardi bersedia diwawancarai untuk blog ini saja moviegeek seneng banget sampe guling-guling. This blog is only a tiny movie blog, but a big star like him willing to spend his time to support a movie blogger like me. Mr. Lukman Sardi, you ROCK!!!
Terima banyak kasih ya Allah!!! Buat kesempatan langka ini. *sujudsyukur*.
Moviegeek juga mau berterimakasih buat mas Lukman Sardi yang sudah bersedia meluangkan waktu diantarakesibukannya yang bejibun untuk memenuhi permintaan wawancara di blog ini. Dan makasih juga buat support teman-teman semua, terutama bella+dafi yang hari itu sudah ‘menyeret’ saya ke Sutos. Me so happy!! Woohoo!
Well, see you on my next post moviegoers. Adios,,,♥

PS : Kalau ada request review atau preview atau yg lain (please jgn yang aneh2), boleh request ke saya via twitter @fitapermatasari


ini foto sama lukman sardi di Sutos.

(duh, karena seharian pergi akhirnya di foto keliatan kusut gitu. Hiks..and, this pic is totally a diet alert for me!!!! *buangcoklat*)

 

Blog Template by YummyLolly.com