Senin, 26 Desember 2011

Tyrannosaur (2011)

 “Nobody save with me” – joseph

Film ini bercerita tentang joseph (Peter Mullan) dan hanna (Olivia Colman) yang dipertemukan secara kebetulan. Mereka memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Joseph adalah orang yang sangat temperamen, kasar, egois dan tidak punya empati. Sementara Hanna adalah orang yang berhati malaikat, taat kepada Tuhan dan percaya bahwa semua orang adalah makhluk Tuhan yang sudah seharusnya diberi kasih sayang.
Joseph dan Hanna bertemu dalam keadaan yang sangat tidak biasa. Pada suatu kesempatan Joseph yang sedang depresi, well dia emang depresi tiap hari sih, lari ke dalam sebuah toko tempat Hanna bekerja. Joseph yang sedang depresi meringkuk di balik baju yang dijual di toko terlihat sangat ketakutan. Hanna yang merasa iba, menutup sejenak tokonya kemudian menghampiri Joseph dan mengajak Joseph untuk berdoa bersama agar Joseph merasa tenang. Sejak hari itu, Joseph yang tersentuh dengan kebaikan hati Hanna selalu mampir lagi ke toko tempat Hanna bekerja.  Perlahan lahan malaikat dan iblis ini menjadi teman dekat.
Joseph yang memang pengangguran selalu mengunjungi Hanna walaupun hanya sekedar berbincang. Hanna menerima dengan terbuka, dan pertemanan yang aneh ini toh terus berlanjut dari hanya ngobrol2 di toko Hanna sampai ke minum bir di bar. Seiring berjalannya waktu, kehidupan asli Hanna mulai terkuak. Dibalik ekspresinya yang tenang ternyata Hanna menyimpan kehidupan yang kelam. Dia adalah korban kekerasan rumah tangga. Suaminya suka memukuli Hanna dan memperlakukannya secara tidak manusiawi. Disinilah terlihat ketegaran hati dari seorang Hanna yang diperlakukan semena mena namun tidak sekalipun berpikiran buruk tentang kehidupan. Sepertinya di mata Hanna semua orang pada dasarnya adalah baik, karena mereka makhluk Tuhan, sehingga Hanna selalu menanamkan image positif kepada setiap orang di sekelilingnya, bahkan kepada suaminya sendiri yang sadisnya.. *sigh*
Persahabatan antara angel and demon ini ternyata berkelanjutan cukup jauh. Pada akhirnya mereka, secara tidak sadar, saling mempengaruhi satu sama lain. Hanna dan Joseph mulai terbawa ke hidup satu sama lain dan pada akhirnya ikut terlibat didalamnya. Hanna dengan kelembutannya menunjukan kepada Joseph tentang empati dan perlahan Joseph mulai dapat memahami perasaan orang lain. Sementara Hanna yang merupakan korban kekerasan rumah tangga, dapat menemukan kenyamanan dari Joseph sebagai pengisi hidupnya yang kesepian. Melalui pertemanan ini, Joseph dan hanna membuka sisi lain dari diri mereka yang pada akhirnya membawa perubahan besar kepada kehidupan mereka masing-masing.


I was speechless. Brokenhearted.
Well, probably, this is the hardest review i’ve ever wrote. I could remember all the heartbreaking scenes tiap kali mengetik di laptop. Saya bahkan gak berani, psychologically, untuk nulis ceritanya sedikit lebih detail pada overview cerita diatas. Too emotional.
Diawal film, saat Joseph yang lagi emosi menendang anjingnya sampai mati, bikin saya shocked. I was stopped there, dan butuh sekitar dua hari untuk mengumpulkan keberanian melanjutkan menonton film ini. Saya agak takut sama yang sadis-sadis, pikiran saya sudah mengarah ke film-film slasher atau semacamnya. Sempet nanya sama temen “ini beneran drama?”. Untungnya saya memutuskan melanjutkan nonton film ini, it was really worthed. Menyelipkan waktu di sela-sela waktu istirahat untuk menonton film ini walaupun bikin saya patah hati selama beberapa hari kedepannya.
But that’s the great point about this movie. Film ini bener-bener real. Kalau kebanyakan movie maker memilih menggambarkan apa yang ingin kita lihat dari dunia, Paddy Considine memilih untuk menggambarkan sisi kehidupan yang tidak ingin kita lihat. Tapi kenyataan tidak selalu berurai air mata bahagia, tidak melulu romance atau hantu2 gak jelas yang populer banget di asia. Saking real-nya, film ini mampu menarik emosi penontonnya dalam, yes it’ll dragged you deep, jauh ke dalam tiap emosi tokoh-tokoh di film ini sejak opening film. Belum lagi akting pemainnya yang juga very very emotional. Those expressions are very real. Apalagi anak kecil tetangga Joseph, Samuel, aduhh miriss sumpah miriss. Wajah sepolos itu harus menyaksikan dan bahkan mengalami kekerasan di rumahnya sendiri. Patah hati, patah hati deh. #seseknafas

Menonton film ini membuat kita berpikir bahwa memang mungkin semua hal di dunia ini itu ada maksudnya. Kalau sesuatu digariskan untuk kita, mungkin ada alasan dibalik itu semua. Seperti pertemuan Joseph dan Hanna yang super aneh, i mean, si Joseph yang lagi depresi tiba-tiba lari dan memutuskan untuk sembunyi lalu masuk ke dalam sebuah toko. Itu kan random banget. From all the possible places, he randomly ran into a store? Kenapa enggak gudang, garasi, hutan apa aja kek yang tersembunyi. Tapi hari itu insting Joseph bilang ‘Go into the store and hide!?’ sehingga nasib mempertemukannya dengan Hanna. Pada awalnya saya berpikir pertemuan ini ditujukan untuk Joseph so that he can have a better heart. Tapi ternyata jauh dibalik itu semua, pada akhirnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. Joseph needs Hanna to lead him into brighter direction, a brighter world, jadi hidupnya tidak melulu kelam dan penuh kekerasan. In the other hand, Joseph dengan segala sifat buruknya mampu memberi kekuatan pada Hanna. Hanna yang berhati lembut dan penakut tidak mampu berbuat apa-apa saat suaminya melakukan hal-hal buruk padanya. So then this friendship finally gave her a little courage to defend herself, a courage that pushed Hanna to do something that we’ll never imagine before.

Hmmm... tapi ya memang hidup seperti itu ya... digambarkan dengan cara apapun kita akan kembali ke wisdom words klasik yang itu-itu aja. Bahwa kita hidup di dunia ini saling membutuhkan satu sama lain dan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius untuk membawa kita ke jalan yang kita pilih. Kalau menurut saya, inti film ini adalah bahwa hidup itu tidak hitam dan putih saja, benar dan salah. So beter not to judge people based on what we saw or heard. Life is much more complicated than that and twisted.  Penuh kejutan yang tidak disangka sangka, sama seperti film ini. Film yang sukses ‘menipu’ saya dan meninggalkan emosi yang membekas di memori saya. Brilliant! (tapi masih tetep patah hati yaa, sayanya... )

 Director                : Paddy Considine
Casts                     : Peter Mullan,  Olivia Colman, Eddie Marsnan, Samuel Bottomley

My Rate :

1.   It’s a must see!!

2.    Film ini seruu..

3.    Lumayan deh buat weekend.

4.    Pinjem dvd-nya aja.

5.    Mending tunggu filmnya maen di tv.

Note : Film ini really worth to watch. Buat penonton yang memang mengejar kualitas, well, it’s a must see then. Buat penonton yang menonton film for entertainment purpose, well maybe this isn’t your interest tapi gak ada salahnya to explore new experience kan? *wink*





 

5 comments:

@doniagustan mengatakan...

suka cara lo menarik kesimpulan untuk film ini... :)
reviewnya bagus banget Fit. :)

fietha mengatakan...

Huwoo I'm flattered, dadon. Berkat lo juga...thank you for introduced me to this movie. Makasih yaaa uda doni

Btw, minta film lagi donk. Mwahahahaa

@asliga mengatakan...

Ur review is very personal, Fit. Poin-poin penekanannya dapet. Yang terpenting adalah sisi feminin penulis bisa masuk ke dalam tulisan.

Ayo keep on writing :)

Anonim mengatakan...

nice review,
film ini bner2 ga mudah ditonton,but tetep salah 1 favorit ane taun ini

Colman & Mullan masing2 bner2 oke,trutama Colman,adegan menjelang ending *spoiler alert* pas Joseph bilang ke Hanna klo dia bru aja dri rumah Hanna---expresi Colman top abiz

fietha mengatakan...

@witra : hohoho thank u ... emang personal. Krn intinya gue suka sharing aja. Jangan harepin deh ada kritik2 soal teknis film disini. Kalo sampe ada, berarti itu udah parah banget krn gue bisa 'sadar' hahahaa

@nugrogo : iya gak mudah..krn at some point terkadang gue menganggap jangan terlalu bawa emosi saat nonton film or u'll dragged to too far. Tapi satu2nya cara menikmati film ini justru dengan membiarkan dirilo 'terbawa'. But i love the experience of being dragged there. :)

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com