Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

TEMPLE GRANDIN (2010)


“My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them.”



Film ini menceritakan tentang Temple Grandin, seorang autis yang cara berpikirnya berbeda dari kebanyakan orang. Dia melihat dunianya dalam bentuk visual, mengingat segala hal dalam potongan-potongan gambar yang detail. Dia bahkan bisa mengingat seluruh isi halaman buku hanya dengan melihatnya saja, karena cara berpikirnya cenderung seperti mem-foto objek. Namun ia memiliki masalah dalam berhubungan dengan lingkungan sosial. Keterbatasannya itu tidak jarang membawanya ke dalam konflik dengan teman-temannya sehingga ia sempat dikeluarkan dari sekolah. Beruntung ibunya kemudian menemukan sebuah sekolah asrama yang mempertemukannya dengan Prof.Carlock., seorang guru science yang menjadi sahabat Temple. Prof.Carlock inilah yang menemukan bakat terpendam Temple dalam hal science, dan membimbing Temple menjadi seorang murid yang brillian.

Pada suatu musim panas, Temple berkunjung ke peternakan Bibinya dan ia banyak belajar berinteraksi dengan hewan. Dari pengamatannya pada hewan ternak bibinya, ia kemudian menemukan ‘squeeze machine’ yaitu sebuah mesin yang dapat membantunya menenangkan diri di saat sedang gelisah dan menjadi penemuan pertamanya. Ia juga belajar memahami emosi hewan, dan ia merasa nyaman jika berada di sekeliling hewan ternak bibinya.

Berbekal pengalamannya di sekolah asrama dan peternakan bibinya, ia kemudian meneruskan pendidikan ke fakultas science, kemudian mengambil master peternakan dan juga berhasil mendapat gelar doktoral. Temple menemukan sistem pemotongan hewan ternak yang lebih baik serta efisien bagi hewan dan pengusaha. Ia menjadi seorang ahli dalam perilaku hewan ternak, dan membuktikan pada dunia bahwa autis bukanlah sesuatu yang mengerikan, seorang autis hanya memiliki cara pandang yang berbeda dan mereka juga bisa membuat hidup mereka bermanfaat bagi lingkungan seperti halnya orang-orang lainnya.



Film yang diangkat dari kisah nyata ini sebenarnya bukan film bertema autis pertama yang saya tonton, tapi film ini, menurut saya memiliki jalan cerita yang lebih positif. Yang saya paling suka adalah, walaupun sebagai seorang autis yang cenderung memiliki banyak hambatan, tetapi dalam film ini sikap optimis tokoh2nya lebih ditonjolkan, jadi kesan yang saya rasakan terhadap tokoh utamanya adalah kagum, tidak hanya simpatik atau drama berlebihan yang biasanya diangkat pada film bertema autistic lain. Film ini dapat membuka mata kita, bahwa autis itu bukan penyakit, mereka hanya berbeda dan mereka juga bisa hidup mandiri sama seperti kita, mereka juga bisa berhasil kalau mereka memiliki kemauan, mereka tidak aneh, freak atau bodoh karena mereka hanya berbeda. Seperti kata Mrs.Grandin dalam film ini “different, but not less”. Bahkan dalam banyak kasus seorang autis bahkan bisa lebih cerdas daripada orang lainnya.

I think we should watch this movie, it can open a new perspective about life. So, enjoy....and see the positive energy that Temple brought us through her amazing life journey.



Director : Mick Jackson

Casts : Claire Danes, Julia Ormond, David Strathairn, Charles Baker, Catherine O’Hara

Rate : 4,5/5

Sabtu, 30 Januari 2010

Review : Beautiful Boxer (2004)



"He fights like a man so he can become a woman"


 

Salah satu hal yang kurang dari Surabaya adalah festival-festival film yang sangat jarang dan publikasinya sering gak maksimal. Termasuk untuk film indie, agak susah untuk mendapatkan film indie di Surabaya jika dibandingkan dengan di Jakarta. But thanks to Metro TV yang setiap hari sabtu menayangkan program Movie World yang memutar film-film peraih penghargaan internasional, dan dari situlah saya menemukan film Beautiful Boxer ini. Rasanya seperti disodori harta karun saja, hehehe.

 
Film ini diangkat dari kisah nyata, tentang seorang waria yang menjadi thai boxer terkenal di Thailand. Nang Toom (Asanee Suwan),the boxer, dibesarkan dalam keluarga kurang mampu di sebuah daerah kecil di Thailand. Sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda 'kewanitaan' seperti suka menari, berdandan, dan benci kekerasan sehingga ia sering menjadi korban bullying temannya bahkan adiknya sendiri. Orang tua Nang Toom yang khawatir akan perkembangan kejiwaan anaknya memutuskan mengirim Nang Toom ke vihara untuk menjadi biksu. Namun selama menjadi biksu pun Nang Toom yang berusaha keras untuk melawan ketertarikannya terhadap hal-hal yang berbau feminisme tetap tidak bisa mengalihkan perhatiannya terhadap hal-hal tersebut dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti jadi biksu. Keluarganya akhirnya menyerah menerima keadaan Nang Toom. Hingga pada suatu hari, ia secara tidak sengaja mengikuti kontes thai boxing di sebuah pasar malam dan memenangkannya. Sejak hari itulah takdir membawanya memasuki dunia thai boxing yang keras, walaupun sempat merasa tidak cocok namun ia bertekad untuk menjadi thai boxer hebat untuk mendapatkan uang demi menghidupi keluarganya yang miskin.
Pi Chart (Sarapong Chatri), pelatih thai boxing melihat bakat Nang Toom dan menjadikannya sebagai salah satu thai boxer utama dari sasananya. Walaupun hidup dalam dunia thai boxing yang identik dengan kekerasan, Nang Toom tetap memiliki jiwa seorang wanita dan hal itu hanya diketahui sahabatnya Pi Bua (Natcha Bootsri). Rahasia Nang Toom terbongkar saat Pi Chart memergoki mereka berdua sedang berdandan, tetapi pelatihnya itu menerima keadaan Nang Toom dan bahkan menyarankannya untuk berdandan saat bertanding thai boxing untuk menambah semangat Nang Toom. Saran Pi Chart tersebut benar-benar menambah semangat Nang Toom dalam bertanding, terbukti dengan semakin banyaknya kemenangan yang ia raih dalam berbagai pertandingan. Sejak saat itu ia bertekad akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk mensejahterakan keluarganya dan menyisihkan untuk biaya operasi kelamin. Penampilan Nang Toom yang memakai dandanan wanita saat bertanding menjadi perhatian banyak orang, banyak yang simpati namun tidak sedikit pula yang mengejek kebiasaan anehnya itu tapi ia tidak gentar malah membuatnya semakin terkenal. Dengan kemenangan-kemenangan dan popularitasnya, Nang Toom berhasil memasuki pertandingan di Stadion Lumpini yang menjadi tempat bergengsi dalam pertandingan thai boxing. Penampilan Nang Toom di kemudian hari menjadi kontroversi dunia thai boxing Thailand dan sempat membuat ia dilarang bertanding, namun dengan popularitasnya yang begitu besar ia bahkan diundang ke Jepang untuk mengikuti pertandingan. Namun Nang Toom tidak pernah melupakan tekad awalnya untuk menjadi seorang perempuan, dan setelah keluarganya sejahtera ia pun menjalani operasi kelamin untuk menjadi seorang wanita seperti yang ia impikan.

 
Film dengan label 'berdasarkan kisah nyata' memang selalu menarik perhatian. Sutradara film ini, Ekachai Uekrongtam benar-benar berhasil 'membius' saya melalui film ini. Sebenarnya sejak lihat trailernya saya sudah cukup 'terbius', hehe. Walaupun saya menonton lewat tv, yang banyak diinterupsi oleh iklan dan breaking news Metro TV, tapi karena cerita film ini bagus jadi saya tetap semangat menonton lengkap dengan 'persenjataan' cemilan kayak nonton bioskop. Menurut saya, tema yang diangkat dalam film ini saja sudah sangat unik, ditambah dengan keseluruhan cerita yang kuat dan penjiwaan karakter pemainnya juga sangat baik akan semakin menambah nilai plus plus dan plus. Tidak heran jika film ini meraih banyak sekali penghargaan internasional. Penghargaan yang disebutkan di gambar poster film yang saya pajang di posting ini saja hanya sebagian dari jumlah total penghargaan yang diraih film ini. Hebat sekali kan?? Two Thums up deh buat Mr.Ekachai Uekrongtam atas kesuksesan filmnya. Senang rasanya kalo nge-review film yang bagus. ♥♥♥

 

Director : Ekachai Uekrongtam
Casts     : Asanee Suwan, Sorapong Chatri, Ornanong Panyawong, Kyoko Inoue, Sitiporn Niyom, Natcha Bootsri


 

My Rate :

  1. Wajib!!!...tonton filmnya dan koleksi dvdnya!!
  2. It's a must see!!
  3. Filmnya baguss loh...
  4. Lumayan deh buat weekend.
  5. Pinjem dvd-nya aja.
  6. Mending tunggu filmnya maen di tv.
    beberapa foto potongan scene film:
 

  
  
 
     
 

Blog Template by YummyLolly.com