Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

A Separation (2011)



“What is wrong is wrong, no matter who said it or where it's written” - Nader

Nader (Peyman Moaadi) dan Simin (Leila Hatami) merupakan pasangan dari keluarga kelas menengah Iran yang sedang menghadapi dilema perceraian. Seperti masalah perceraian pada umumnya, penyebab keretakan rumah tangga ini pada dasarnya adalah perbedaan visi hidup. Klasik.

Simin menginginkan agar keluarga mereka (Nader, Simin dan Termeh) pindah keluar negeri demi masa depan yang lebih baik terutama bagi putri tunggalnya, Termeh. Namun disisi lain Nader tidak dapat meninggalkan Iran karena harus mengurus ayahnya yang merupakan penderita Alzheimer. Mereka saling mempertahankan argument masing-masing sehingga pada akhirnya Simin memutuskan untuk mengajukan cerai melalui persidangan. Awalnya Nader menolak, namun karena Simin bersikeras sehingga pada akhirnya mereka mengambil jalan perpisahan. Sambil menunggu putusan persidangan, Simin memutuskan untuk pindah sementara ke rumah orang tua kandungnya. Nader dan Termeh tetap tinggal di apartemen bersama dengan Ayah Nader yang sedang sakit.

Nader merupakan pekerja kantoran, sehingga sepeninggal Simin tidak ada yang merawat ayahnya selama jam kantor. Keluarga mereka mempekerjakan seorang wanita bernama Razieh (Sareh Bayat) sebagai perawat paruh waktu. Razieh bekerja dengan sangat baik, anaknya yang bernama Somayeh juga sangat dekat dengan keluarga Nader. Namun suatu hari sepulang dari kantor, Nader menemukan ayahnya dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat terjatuh dari tempat tidur dan dengan kondisi sebelah tangan terikat ke tempat tidur, sementara Razieh yang seharusnya merawat tidak ada di tempat. Keadaan tersebut diperparah dengan hilangnya sejumlah uang di salah satu laci penyimpanan. Nader marah besar kepada Razieh karena dianggap lalai menunaikan tugasnya dan bahkan menolak membayar upah Razieh hari itu karena beranggapan Razieh telah mencuri uang yang disimpan di laci. Razieh yang tidak merasa mengambil uang lalu membela diri, namun Nader yang sudah keburu gelap mata malah mendorong Razieh secara paksa keluar dari pintu apartemen dan akhirnya terjatuh di tangga.

Disinilah drama dimulai,  masalah besar tiba-tiba menghampiri hidup Nader, Simin dan Termeh. Setelah kejadian tersebut,  Simin mennghubungi Nader untuk segera ke rumah sakit menjenguk razieh yang keguguran dan diduga penyebabnya adalah akibat terjatuh di tangga. Houjat (Shahab Hosseini), suami Razieh, tidak terima atas kejadian tersebut. Dari sini sudah bisa diduga, lagi-lagi Nader akan berjadapan dengan pengadilan, namun kali ini untuk tuntutan pidana.
Sejak kasus ini muncul, kehidupan keluarga mereka menjadi lebih kacau. Mulai dari repotnya proses penyelidikan,  tuntut-menuntut balik antara Razieh dan Nader, saksi-saksi yang diteror oleh suami Razieh sampai aksi pengintaian tiap hari yang dilakukan oleh Houjat. Itu belum termasuk penyelesaian kasus perceraian mereka yang sebenarnya sudah lebih dulu ada. Dalam pelik masalah yang bertubi-tubi inilah sesungguhnya kebersamaan keluarga Nader dan Simin diuji. Tidak hanya bagi Nader dan Simin namun terutama bagi Termeh, putri tunggal mereka.

Deep in every detail.
Yang pertama kali terlintas di otak saya sehabis menonton adalah : Yay! You go girl, unbreakable kid! – ditujukan buat Termeh.
Sejak awal memang, fokus saya langsung tertuju ke Termeh. Anak dari korban perceraian orang tua yang terlihat sangat tegar di film ini. With all the drama follows after the separation, dia tetap terlihat seperti tidak ada apa. Suka banget sama aktingnya Sarina Farhadi ini, sangat natural dan meyakinkan.
Ngomong-ngomong soal akting, tokoh-tokoh penting di film ini mainnya sangat cantik. Simple-clean-convincing. Mungkin yang agak ganggu hanya gurunya Termeh aja hihii, yang lainnya oke, sepertinya juga efek maskara berlebihan sih yaa. Well, tapi disana penggunaan maskara emang agak berlebihan *ngikik*. Saya sih belum banyak menonton film-film Iran, tapi A Separation ini bukan yang pertama, ada beberapa yang sudah lebih dulu saya nonton. Dan seingat saya film Iran yang saya tonton akting pemainnya memang sangat natural seakan akan ya seperti itulah adanya sehari hari. Not too emotional, but emotional enough as if it wasn’t a movie. Jadi menonton itu rasanya kita ikut masuk ke kehidupan di film.
Pada dasarnya cerita di film ini adalah kehidupan rumah tangga biasa. If you look around, drama-drama semacam ini ada di sekitar kita. Tinggal buka pintu rumah dan pandangan kita. Perceraian, kemiskinan, honesty, dignity, and love. Tapi sekali lagi, it’s about how the movie served. Sehingga yang menonton juga merasa ikut terbawa ke suasanya yang dibangun oleh sutradara. Sehingga saya merasa dekat dengan film ini. Semoga kamu juga ya....
Yang saya suka banget dari film ini adalah caranya mengambil hal-hal yang biasa dan simple tapi dikemas dengan rapih. Film ini membuka mata kita bahwa hal-hal semacam ini bisa terjadi di mana saja dan kepada siapa saja. Lihat Nader dan Simin, belum juga kelar proses perceraian tiba-tiba dihadapkan dengan masalah tuntutan pidana. Siapa yang menyangka niatnya untuk memberi Razieh pekerjaan justru berujung pada tuntutan pidana? Siapa yang menyangka juga masih stress akibat perceraian terus didera masalah pidana? PIDANA!! Denger pengadilan aja sudah serem. Well, intinya : kesialan itu bisa menimpa siapa saja dan tiap keputusan itu selalu ada konsekuensinya. So, be wise.
Yang paling bikin sedih dari film ini adalah melihat kondisi Termeh yang berusaha tegar di tengah kemelut keluarganya. Ia dipaksa harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya bercerai dan dalam waktu singkat juga secara tidak langsung menjadi korban dan menjadi saksi kasus pidana ayahnya. Siapa sih yang menginginkan orang tuanya bercerai? Ibunya bahkan menggunakan alasan ‘demi masa depan Termeh’ agar keluarga mereka bisa berangkat ke luar negeri, ambisi ibunya yang akhirnya berujung pada perceraian. Bahkan Termeh lah pada akhirnya yang harus berjuang sendirian untuk menyelamatkan pernikahan ayah-ibunya, dengan caranya sendiri. *sigh*
Disinilah terlihat keegoisan orang dewasa, yang terkadang lupa, dan pada akhirnya berani mengatasnamakan orang lain demi kepentingan mereka sendiri. Bahkan dalam usia yang masih sangat belia, Termeh ‘dipaksa’ menjadi dewasa dari usianya bahkan lebih dewasa dari orang tuanya yang (mungkin) lupa akan esensi kebahagiaan. Salahkah Nader dan Simin? Well, belum tentu. Salah dan benar itu sangat kabur di dunia ini.  :)
Miris memang... but that’s life. Kita tidak bisa mengharapkan hidup kita berjalan dengan sempurna. Bahkan dongeng pun selalu punya konflik di dalam tiap cerita, tapi intinya kan bagaimana kita menjalani hidup dan berusaha meraih kebahagiaan yang kita inginkan. Dan yang paling penting jangan biarkan masalah yang ada membuat kita lupa akan diri kita dan membuat kita rapuh akan keadaan. No! You’re bigger than every problem in this world. Dan buat anak-anak yang berasal dari keluarga broken home di luar sana, inget satu pesan saya : No matter how broken your family is.. but you have to be the unbreakable kids. It’s not gonna be easy. But hapiness is in your hands, not others. Love is everywhere, honey. Live your life with your best. :)

 Director  :  Asghar Farhadi
Casts         : Peyman Maadi, Leila Hatami, Sareh Bayat, Sarina Farhadi, Shahab Hosseini
My Rate :
1.    It’s a must see!!
2.    Film ini seruu..
3.    Lumayan deh buat weekend.
4.    Pinjem dvd-nya aja.
5.    Mending tunggu filmnya maen di tv.


ahhh somayeh comel sekalii...sini kakak ciyum :*

Senin, 26 Desember 2011

Tyrannosaur (2011)

 “Nobody save with me” – joseph

Film ini bercerita tentang joseph (Peter Mullan) dan hanna (Olivia Colman) yang dipertemukan secara kebetulan. Mereka memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Joseph adalah orang yang sangat temperamen, kasar, egois dan tidak punya empati. Sementara Hanna adalah orang yang berhati malaikat, taat kepada Tuhan dan percaya bahwa semua orang adalah makhluk Tuhan yang sudah seharusnya diberi kasih sayang.
Joseph dan Hanna bertemu dalam keadaan yang sangat tidak biasa. Pada suatu kesempatan Joseph yang sedang depresi, well dia emang depresi tiap hari sih, lari ke dalam sebuah toko tempat Hanna bekerja. Joseph yang sedang depresi meringkuk di balik baju yang dijual di toko terlihat sangat ketakutan. Hanna yang merasa iba, menutup sejenak tokonya kemudian menghampiri Joseph dan mengajak Joseph untuk berdoa bersama agar Joseph merasa tenang. Sejak hari itu, Joseph yang tersentuh dengan kebaikan hati Hanna selalu mampir lagi ke toko tempat Hanna bekerja.  Perlahan lahan malaikat dan iblis ini menjadi teman dekat.
Joseph yang memang pengangguran selalu mengunjungi Hanna walaupun hanya sekedar berbincang. Hanna menerima dengan terbuka, dan pertemanan yang aneh ini toh terus berlanjut dari hanya ngobrol2 di toko Hanna sampai ke minum bir di bar. Seiring berjalannya waktu, kehidupan asli Hanna mulai terkuak. Dibalik ekspresinya yang tenang ternyata Hanna menyimpan kehidupan yang kelam. Dia adalah korban kekerasan rumah tangga. Suaminya suka memukuli Hanna dan memperlakukannya secara tidak manusiawi. Disinilah terlihat ketegaran hati dari seorang Hanna yang diperlakukan semena mena namun tidak sekalipun berpikiran buruk tentang kehidupan. Sepertinya di mata Hanna semua orang pada dasarnya adalah baik, karena mereka makhluk Tuhan, sehingga Hanna selalu menanamkan image positif kepada setiap orang di sekelilingnya, bahkan kepada suaminya sendiri yang sadisnya.. *sigh*
Persahabatan antara angel and demon ini ternyata berkelanjutan cukup jauh. Pada akhirnya mereka, secara tidak sadar, saling mempengaruhi satu sama lain. Hanna dan Joseph mulai terbawa ke hidup satu sama lain dan pada akhirnya ikut terlibat didalamnya. Hanna dengan kelembutannya menunjukan kepada Joseph tentang empati dan perlahan Joseph mulai dapat memahami perasaan orang lain. Sementara Hanna yang merupakan korban kekerasan rumah tangga, dapat menemukan kenyamanan dari Joseph sebagai pengisi hidupnya yang kesepian. Melalui pertemanan ini, Joseph dan hanna membuka sisi lain dari diri mereka yang pada akhirnya membawa perubahan besar kepada kehidupan mereka masing-masing.


I was speechless. Brokenhearted.
Well, probably, this is the hardest review i’ve ever wrote. I could remember all the heartbreaking scenes tiap kali mengetik di laptop. Saya bahkan gak berani, psychologically, untuk nulis ceritanya sedikit lebih detail pada overview cerita diatas. Too emotional.
Diawal film, saat Joseph yang lagi emosi menendang anjingnya sampai mati, bikin saya shocked. I was stopped there, dan butuh sekitar dua hari untuk mengumpulkan keberanian melanjutkan menonton film ini. Saya agak takut sama yang sadis-sadis, pikiran saya sudah mengarah ke film-film slasher atau semacamnya. Sempet nanya sama temen “ini beneran drama?”. Untungnya saya memutuskan melanjutkan nonton film ini, it was really worthed. Menyelipkan waktu di sela-sela waktu istirahat untuk menonton film ini walaupun bikin saya patah hati selama beberapa hari kedepannya.
But that’s the great point about this movie. Film ini bener-bener real. Kalau kebanyakan movie maker memilih menggambarkan apa yang ingin kita lihat dari dunia, Paddy Considine memilih untuk menggambarkan sisi kehidupan yang tidak ingin kita lihat. Tapi kenyataan tidak selalu berurai air mata bahagia, tidak melulu romance atau hantu2 gak jelas yang populer banget di asia. Saking real-nya, film ini mampu menarik emosi penontonnya dalam, yes it’ll dragged you deep, jauh ke dalam tiap emosi tokoh-tokoh di film ini sejak opening film. Belum lagi akting pemainnya yang juga very very emotional. Those expressions are very real. Apalagi anak kecil tetangga Joseph, Samuel, aduhh miriss sumpah miriss. Wajah sepolos itu harus menyaksikan dan bahkan mengalami kekerasan di rumahnya sendiri. Patah hati, patah hati deh. #seseknafas

Menonton film ini membuat kita berpikir bahwa memang mungkin semua hal di dunia ini itu ada maksudnya. Kalau sesuatu digariskan untuk kita, mungkin ada alasan dibalik itu semua. Seperti pertemuan Joseph dan Hanna yang super aneh, i mean, si Joseph yang lagi depresi tiba-tiba lari dan memutuskan untuk sembunyi lalu masuk ke dalam sebuah toko. Itu kan random banget. From all the possible places, he randomly ran into a store? Kenapa enggak gudang, garasi, hutan apa aja kek yang tersembunyi. Tapi hari itu insting Joseph bilang ‘Go into the store and hide!?’ sehingga nasib mempertemukannya dengan Hanna. Pada awalnya saya berpikir pertemuan ini ditujukan untuk Joseph so that he can have a better heart. Tapi ternyata jauh dibalik itu semua, pada akhirnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. Joseph needs Hanna to lead him into brighter direction, a brighter world, jadi hidupnya tidak melulu kelam dan penuh kekerasan. In the other hand, Joseph dengan segala sifat buruknya mampu memberi kekuatan pada Hanna. Hanna yang berhati lembut dan penakut tidak mampu berbuat apa-apa saat suaminya melakukan hal-hal buruk padanya. So then this friendship finally gave her a little courage to defend herself, a courage that pushed Hanna to do something that we’ll never imagine before.

Hmmm... tapi ya memang hidup seperti itu ya... digambarkan dengan cara apapun kita akan kembali ke wisdom words klasik yang itu-itu aja. Bahwa kita hidup di dunia ini saling membutuhkan satu sama lain dan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius untuk membawa kita ke jalan yang kita pilih. Kalau menurut saya, inti film ini adalah bahwa hidup itu tidak hitam dan putih saja, benar dan salah. So beter not to judge people based on what we saw or heard. Life is much more complicated than that and twisted.  Penuh kejutan yang tidak disangka sangka, sama seperti film ini. Film yang sukses ‘menipu’ saya dan meninggalkan emosi yang membekas di memori saya. Brilliant! (tapi masih tetep patah hati yaa, sayanya... )

 Director                : Paddy Considine
Casts                     : Peter Mullan,  Olivia Colman, Eddie Marsnan, Samuel Bottomley

My Rate :

1.   It’s a must see!!

2.    Film ini seruu..

3.    Lumayan deh buat weekend.

4.    Pinjem dvd-nya aja.

5.    Mending tunggu filmnya maen di tv.

Note : Film ini really worth to watch. Buat penonton yang memang mengejar kualitas, well, it’s a must see then. Buat penonton yang menonton film for entertainment purpose, well maybe this isn’t your interest tapi gak ada salahnya to explore new experience kan? *wink*





 

Minggu, 23 Oktober 2011

Sang Penari (2011)




"Jadi ronggeng itu bukan cuma urusan perkara nari saja.” - Nyai Kertaredja
Saat kecil, Srintil dan Rasus sering menonton pertunjukan Ronggeng di dusun mereka, Dukuh Paruk. Melihat keanggunan seorang Ronggeng, Srintil kecil bercita-cita menjadi seorang Ronggeng. Saat dewasa, Srintil dan Rasus yang bersahabat sejak kecil pun saling jatuh cinta. Namun cinta mereka tidak dapat dipersatukan karena Srintil dinobatkan sebagai seorang Ronggeng yang menjadi cita-citanya sejak kecil. Menjadi seorang Ronggeng, berarti Srintil menjadi milik seluruh desa Dukuh Paruk dan harus mengabdikan diri kepada leluhurnya, jiwa dan raga. Rasus yang tidak dapat bersama dengan Srintil akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan TNI untuk melupakan cintanya terhadap Srintil.

Rasus menghilang dari kehidupan Dukuh Paruk dan memutuskan tinggal di lingkungan tentara, sedangkan Srintil sibuk dengan kehidupannya sebagai Ronggeng.

Dukuh Paruk merupakan daerah yang terpencil, sebagian besar penduduknya tidak tahu baca dan tulis sehingga mudah dibodohi oleh Tuan2 tanah dan mandor perkebunan lokal. Kemudian seorang pemuda dari kota bernama Bakar datang ke Dukuh Paruk untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Dengan membawa nama Serikat Tani, paham komunis mendekati warga Dukuh Paruk untuk menggalang suara bagi partainya. Namun disinilah awal penderitaan sesungguhnya bagi warga Dukuh Paruk.
Saat G30S PKI pecah, kekacauan muncul dimana mana, pemberantasan terhadap oknum-oknum PKI pun dimulai. Seluruh daerah jawa disisir, tak terkecuali Dukuh Paruk yang memang menjadi salah satu daerah binaan PKI. Pembantaian terhadap oknum-oknum PKI pun dimulai. Rasus yang saat itu juga terlibat dalam pembantaian PKI pun tidak dapat menahan keinginannya untuk mencari keberadaan Srintil. Mengantongi ijin dari atasannya, Rasus mencari jejak keberadaan Srintil. Usaha Rasus untuk mencari Srintil tidak mudah dan memakan waktu yang lama. Pada akhirnya nasib memepertemukan mereka, namun keadaan sudah sangat berubah sehingga mereka memilih mengambil jalan masing-masing.


Overall, saya suka dengan film ini. Mengambil setting tahun 1960-an. Walaupun intinya tetep cecintaan antara dua tokoh utama, tapi rasa 'jawa'nya, kekentalan budayanya terasa banget. Suasana pedesaan di pedalaman Jawa yang saat itu memang nyaris tidak tersentuh peradaban modern, dimana masyarakatnya masih menganut kepercayaan kuno. Saya merasa benar-benar terbawa ke suasana pedesaan Jawa jaman dulu. Setting persawahan yang masih alami, jejeran gubuk desa yang berlantaikan tanah dan tembok anyaman, serta sesajen di makam leluhur berhasil menciptakan atmosfer kuno di film ini, well kalau itu memang tujuannya. Akting-akting pemainnya juga oke banget. Walaupun bahasa jawa-nya masih agak terasa kaku di beberapa bagian (bok gue jawa yahh...), tapi bisa banget diterima lahh.... Terutama buat Prisa Nasution dan Oka Antara yang berhasil menunjukkan passion of love antara Srintil dan Rasus. Jadi ikut merasakan pedihnya, patah hatinya mereka berdua karena tidak bisa bersama.
Oh iya, hampir lupa, akting Slamet Rahardjo dan Dewi Irawan yang memang sudah senior tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dengan budaya Ronggeng yang menurut saya agak, maaf, merendahkan wanita itu, akting mereka bisa membuat saya paham dimana letak 'keistimewaan' Ronggeng di mata budaya Jawa saat itu dan mengerti kenapa dibanggakan banget. But still yaa... miris lihatnya. Apalagi adegan urut saat luluran itu....huhuuu jahat deh L



Yang menurut saya agak kurang dari film ini adalah...LAMA. Bukan lama durasinya, tapi alurnya sedikit agak lambat. Saya masih bisa nih, bbm-an lancar dan tetap merasa 'oh masih yg ini ya?' bbm-an sambil nonton itu jarang saya lakukan, tapi saya kok malah nyari-nyari bb ya? Hehee. Penggambaran sejarahnya juga tanggung sih yaa.... Penonton harus mempunyai background pengetahuan sejarah dan politik yang cukup baik kalau ingin paham tema politik yang digambarkan di film ini. Ya kan penonton awam bisa bingung aja ... Ada orang mau ngebantuin desa supaya maju, trus genteng2 ditandai organisasi tertentu. Lalu tiba-tiba tentara menyebut Dukuh Paruk sudah 'merah' dan di radio ada jendral dibunuh, trus tiba-tiba pada ditangkap. Coba pas pembantaian ada adegan yang masyarakat ikut membasmi PKI yang tusuk2 bunker...eh?kejadian itu di Jatim ya? Hahaha beda setting tweeps, maaf. Heheee

Ronggeng yang sebelum Srintil, Mbak Happy Salma, cuantikkk yaaaaa. Eksotis abis, Indonesia sekali, sexinya ala Jawa banget. Dan saya baru tau kalo ternyata Happy Salma itu Sunda.... tapi bisa banget jadi putri jawa ya...



Kalau ditanya ini reccomended atau enggak ... saya tetap bakal bilang film ini RECCOMENDED kok, walaupun memang agak berat. Nilai budayanya kental banget, Music scoringnya oke – jawanya dapet, feelnya pas banget dengan emosi film ini , ceritanya juga bagus banget dan beberapa kekurangan yang saya ceritain diatas gak akan mengganggu kepuasan nonton film ini kok. It was just an opinion of me. Kalau lagi cari film untuk yang pure untuk hiburan , mungkin kurang cocok sih yaa... daripada pulang dengan keadaan nauseous. Hehee

Oh iya....Tanggal 10 November, film Sang penari akan tayang secara resmi di bioskop Indonesia. Jangan dilewatkan yaa


Director        : Ifa Ifansyah
Casts            : Oka Antara, Prisa Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo


Moviegeek Rate :
  1. It's a must see!!
  2. Film ini seruu..
  3. Bagus loh
  4. Lumayan deh buat weekend.
  5. Pinjem dvd-nya aja.
  6. Mending tunggu filmnya maen di tv.






Minggu, 11 September 2011

Review : Tendangan Dari Langit (2011)


"Who is Irfan Bachdim?  ... "  - Hendro (Giorgino Abraham)

Tinggal di daerah terpencil tidak membuat Wahyu (Yosie Kristianto), anak muda dari Desa Langitan, melupakan mimpinya bermain Sepak Bola di lapangan besar. Dengan segala keterbatasan lingkungan, ekonomi(termasuk tidak punya sepatu bola) tidak membuat Wahyu kehilangan semangat berlatih sepak bola. Dengan bakatnya, tim kampung setempat pun melirik Wahyu untuk bermain sepak bola dengan diberi bayaran. Namun Pak Darto (Sudjiwo Tedjo),ayah Wahyu, sangat menentang Wahyu untuk bermain sepak bola. Sehingga tidak sedikit hukuman yang ia terima dari ayahnya setiap ketahuan bermain sepak bola.
Kecintaan Wahyu kepada olah raga inilah yang membuat Wahyu tetap bertekad bermain bola walaupun mendapat larangan keras dari Sang Ayah. Wahyu sempat mengalah dan mengikuti perintah ayahnya untuk berhenti bermain sepak bola, tapi dengan kesabarannya Wahyu perlahan-lahan dapat melunakkan hati ayahnya agar ia diijinkan kembali bermain sepak bola. Keberuntungan pun berpihak pada Wahyu, takdir mempertemukan Wahyu dengan pelatih Persema dalam sebuah kejadian yang tidak disengaja. Saat Coach Timo dan Mathias Ibo sedang jogging di lereng Gunung Bromo, secara tidak sengaja mereka melihat Wahyu dan Ayahnya sedang berlatih, dan kemudian memutuskan mengundang Wahyu untuk try out dengan Persema.
Kesempatan try out inilah yang pada akhirnya membuka jalan bagi Wahyu untuk masuk ke dunia persepakbolaan. Apakah Wahyu dapat meraih mimpinya menjadi pemain professional? Well the answer is on the movie. Makanya yukk ditonton yuukkk... J
 ---
Film ini keren cuk!! Jancuk yoo!! astaghfirlah...anak cewek gak boleh misuh2... 0:) *self toyor* hehee
Well, overall film ini bagus. Akting pemainnya mantap (Bachdim dan Kurniawan gak dihitung ya, mereka itu nampil gak akting), yang salut banget justru akting si Yosie (pemeran Wahyu) sendiri. Pendatang baru tapi benar-benar bisa menonjolkan nyawa dari tokoh yang diperankan dan gak cuman itu, skill bermain bolanya juga lumayan oke sehingga saat harus bermain dengan pemain bola professional seperti Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, Yosie masih bisa mengimbangi. Yosie benar-benar berhasil meyakinkan saya kalau dia bisa bermain sepak bola. Film ini juga dipermanis dengan penampilan Maudy Ayunda yang emang manisnya bikin melting cowok2 dan bikin sirik cewek2 seIndonesia. Ditambah penampilan sahabat-sahabat Wahyu yang diperankan oleh Jordy Onsu dan Joshua Suherman sukses bikin ngakak, kombinasi yang pas antara teman yang hiperbola ,freak dan kebangetan puitisnya.
Yang paling outstanding disini tentu saja Kanjeng Sujiwo Tedjo dengan Jancuk’annya...Dewa Jancukers ini emang gak pernah setengah-setengah kalau urusan Jancuk’an. Yang orang Jawa Timur atau mereka yang follower account twitter @sujiwotejo pasti ngakak habis-habisan setiap liat Kanjeng satu ini mengeluarkan C*k bomb-nya. Parah!! But,,that’s how things going on in East Java.. Sebagai orang Surabaya, saya sih maklum-maklum saja... hehee
Uhmm...dari segi akting sih sudah oke. Trus ceritanya gimana? Sebenarnya ide cerita film ini sudah oke banget...alurnya juga mudah diikuti dan tidak membuat penonton bingung. Hanya saja, di beberapa bagian cerita yang menurut saya penting (sengaja tidak saya sebutkan karena takut spoiler), eksekusinya justru kurang mengena sehingga mengurangi makna cerita itu sendiri. Dan ada beberapa joke di beberapa bagian yang saya kurang suka, agak sedikit garing gitu. Tapi keseluruhan sudah oke banget kokk.... Dan film ini emang wajib tonton sih. Rugi banget kalau sampai tidak sempat melihat pemandangan di lereng Gunung Bromo dan sedikit gambaran keadaan masyarakat disana. Rugi gak liat muka ganteng Bachdim dan Kurniawan nampil di film (nyaris) tanpa dialog, zZzZzz hahahaa...
Mas Hanung, oke nih filmnya... Good job!

Directed by    : Hanung Bramantyo
Casts             : Yosie Kristianto, Maudy Ayunda, Sujiwo Tejo, Agus Kuncoro
My Rate :
1.    It’s a must see!!
2.    Film ini seruu..
3.    Lumayan deh buat weekend.
4.    Pinjem dvd-nya aja.
5.    Mending tunggu filmnya maen di tv.

what a great view, Indonesia
Nice outfit, Kim. Cocok masuk majalah fashion lol

ahh...speechless. <3

Senin, 27 September 2010

PREVIEW : Wall Street "Money Never Sleeps" (2010)





"It's not about the money,it's about the game." - Gordon Gekko

Shia LaBeouf bakal kambali menghibur kita, bukan lewat tontonan robot-robotan ala transformer, tapi lewat film yang temanya agak sedikit berat. The game of money. (OMG, denger kata-kata game&money di satu kalimat mengingatkan saya tentang mata kuliah investasi derivatif.cape deh!!). Shia LaBeouf akan beradu akting dengan aktor kawakan Michael Douglas yang berperan sebagai Gordon Gekko, seorang pialang saham handal.


Film Wall Street : Money Never Sleeps merupakan sekuel dari film tahun 1987berjudul Wall Street. Dalam peran sebagai Gordon Gekko saat itulah ia berhasil manyabet piala oscar di tahun 1988. Well, 23 tahun merupakan waktu yang benar2 lama untuk sebuah sekuel, moga-moga penampilan di versi yang baru ini Douglas bisa memuaskan penonton.
Dalam film ini, dikisahkan Gekko yang telah keluar dari penjara dan menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya. Harta, relasi, keluarga dan reputasi besarnya di jaman dulu. Tapi Gordon dalah pria cerdas dan ambisius, ia berusaha merebut hidupnya kembali. Gordon sadar, ia juga harus memperbaiki hubungannya dengan Winnie (Carrey Mulligan) ,anak perempuannya. Namun ternyata Winnie tidak bisa memaafkan kesalahan yang dilakukan ayahnya terhadap keluarga di masa lalu. Sementara itu, pacar Winnie, Jacob (Shia LaBeouf) adalah seorang broker saham pemula. Jacob sendiri membutuhkan bantuan orang seperti Gordon untuk memecahkan sebuah misteri. Gordon yang picik kemudian mendekati Jacob, dan akhirnya mereka bekerja sama. Gordon memanfaatkan kedekatannya dengan Jacob untuk mendekati Winnie.

Winnie berusaha memperingatkan jacob tentang ayahnya. Dan tenyata keterlibatannya dengan seorang Gordon Gekko, akhirnya menyeret Jacob ke dalam masalah yang lebih besar.


Sejak film ini dikabarkan bakal dirilis, di timeline twitter saya sudah banyak yang penasaran sama film ini, terutama mereka yang setau saya belajar tentang keuangan. Tapi sebenarnya preview ini akhirnya saya tulis, karena request dari teman saya, Windy. (hehehe, thanks dude!)
Saham memang punya daya tarik tersendiri buat orang-orang finance, yang menurut saya well, it kinda tempting but a lil bit risky, dan sangat manipulatif. Liat trailer film ini juga bikin saya merinding, kalau mengingat bagaimana spekulasi-spekulasi itu 'dimainkan', betapa berharganya tiap detik bagi pialang saham, telat sedikit bisa habis sudah investasi di tangan. Dan betapa uang bisa mengubah seseorang.

Saya rasa film ini wajib ditonton. Terlebih lagi ini merupakan sekuel film kualitas Oscar. Kita lihat, apakah pesona Michael Douglas sebagai Gordon Gekko sama seksinya dengan 23 tahun lalu? Atau Shia LaBeouf bisa bikin kita 'meleleh'.

Well, kita lihat saja nanti....Saya juga sudah penasaran banget sama film ini.


Director : Oliver Stone

Casts     : Michael Douglas, Shia Labeouf, Carrey Mulligan.

Check the trailer :




wall street poster in 1987

Sabtu, 25 September 2010

Sehari Saja (a fiksimini movie) : Review


"SEHARI SAJA. Kami mengepak koper lalu berpisah di ujung jalan. Ternyata Selamanya." - Novita Poerwanto ( @LVCBV )


Kutipan fiksimini diatas, merupakan ide awal cerita film Sehari Saja ini. Menceritakan tentang sepasang suami - istri yang telah menikah selama 10 tahun. Tepat pada hari ulang tahun pernikahan yang ke 10, sang suami memberikan hadiah pernikahan kepada istrinya yaitu berlibur selama sehari penuh tanpa dirinya. Mereka pun mengepak koper, berjalan menuju 'hadiah' ulang tahun pernikahan ke sepuluh tahun mereka, dan berpisah di ujung jalan. Menikmati waktu untuk diri mereka seorang diri.
Satu hari telah berlalu, sang suami kembali ke rumah, belum ada tanda-tanda kehadiran sang istri. Sampai akhirnya, seminggu pun berlalu sejak ulang tahun pernikahan mereka yang ke 10, kekasih yang menemaninya selama 10 tahun itu tetap tak kembali.
Pada hari itu, peringatan ulang tahun pernikahan ke 10. Perpisahan di ujung jalan itu, perpisahan selama satu hari, ternyata berlangsung untuk selamanya.

Film ini, walaupun cuma 3 menitan tapi dalem banget. Dari versi fiksimininya udah keliatan kalo ada perpisahan yang tak terduga. Baca versi cerita pendeknya (also written by @LVCBC ), tambah bikin miris. Nonton filmnya, waspada bikin mewek. Terutama adegan dimana sang suami pada akhirnya menyadari bahwa istri tercintanya memilih untuk tak kembali, dalam frustasi kehilangan yang begitu dalam, sambil memegang cincin pernikahannya ia masih bisa tersenyum. Ikhlas. Merelakan kekasihnya pergi, karena percaya bahwa perpisahan selamanya yang menjadi pilihan istrinya adalah yang terbaik. Mengikhlaskan cinta pergi, demi cinta. Pada akhirnya, penonton yang sakit hati.
Saya suka akting pemainnya, yang walaupun tanpa dialog tapi ekspresinya dalam dan mampu menggambarkan cerita. Didukung dengan musik yg pas. Sinematografi nya juga ok, simple, detail dan dramatis. Two thumbs up buat Melia Livita, yang sudah jadi sutradara sekaligus editor di film ini. Juga buat Novita Poerwanto yang empunya ide cerita dan bikin scriptnya. Well, kalau mau bikin film bagus gak perlu banyak2an efek kan? Cukup dengan script yang  bagus, angle pengambilan gambar yang ok, sedikit idealisme dan kekompakan kru pasti hasilnya oke! Good job!!

Director : Melia Livita
Casts     : Diaz Ananda, Fardani Anissa.

My Rate : It's a must see!!!
                (silahkan nonton filmnya di bag bawah review ini)

Sehari Saja (a film by Fiksimini Surabaya)

Selasa, 21 September 2010

Letters To Juliet (2010) : Review



"I am madly, truly, deeply, passionately in love with you"


Sophie adalah seorang pemeriksa fakta di harian terkenal New Yorker, karirnya sangat bagus walaupun sebenarnya passionnya adalah menjadi seorang penulis. Sophie bertunangan dengan Victor, seorang chef masakan Italia yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pembukaan restoran barunya di New York. Dalam waktu dekat rencananya mereka akan melangsungkan pernikahan, namun karena kesibukan karir masing-masing maka liburan bulan madu yang seharusnya dilaksanakan setelah menikah justru dilakukan sebelum pernikahan, a pre honeymoon.
Sophie pun mengambil cuti pre honeymoon-nya dan berangkat ke Verona, Itali bersama Victor. Pada awalnya Sophie berharap perjalanan liburannya kali ini akan menjadi perjalanan yang romantis, tapi ternyaa Victor justru terlalu sibuk dengan calon supplier untuk restoran barunya sehingga melupakan rancana-rancana perjalanan yang telah disusun Sophie. Sampai pada suatu hari, Sophie berkunjung ke rumah Juliet dan melihat puluhan wanita menulis selembar surat kepada Juliet tentang kisah cintanya dan menempelkannya dinding rumah Juliet. Dari tempat itulah, Juliet bertemu dengan sekelompok wanita yang menamakan diri mereka ‘Sekertaris Juliet’ yang bertugas membalas semua surat cinta yang ditujukan untuk Juliet. Suatu hari Sophie menemukan surat yang ditujukan untuk Juliet terselip di antara batu bata dinding yang ditulis 50 tahun lalu, dari seorang gadis Inggris bernama Claire yang menceritakan tentang cinta sejatinya bernama Lorenzo. Penasaran dengan surat berusia 50 tahun itu, Sophie pun membalas surat tersebut kepada Claire. Dan secara mengejutkan, Claire bersama cucunya Charlie datang ke Verona dan bertemu dengan Sophie. Berkat surat balasan dari Sophie, Claire berniat menemui cinta lamanya yang ditinggalkannya 50 tahun lalu. Sophie pun ikut bergabung bersama Claire dan Charlie untuk menemukan Lorenzo, dan memutuskan bahwa kisah Claire ini akan menjadi bahan tulisan pertamanya untuk New Yorker.

Film ini secara keseluruhan sebenarnya cukup menarik, apalagi mengambil setting di Verona yang terkenal dengan kisah cintanya. Ide cerita juga cukup menarik, dan banyak hal yang sebenarnya bisa dieksplore dari film ini. Sayangnya, untuk film bergenre romance yang menceritakan tentang pertemuan cinta sejati, menurut saya film ini kurang dapat menunjukkan passion of love-nya  terutama pada bagian dialog dan labih cenderung berputar-putar di sekitar acara jalan-jalan Sophie, Claire dan Charlie. Sayang banget, banyak passioon yang sebenarnya bisa ditunjukkan di film ini, Sophie yang ragu dengan tunangannya dan keinginan dia yang besar untuk menjadi penulis, atau mungkin justru karena terlalu banyak itu jadi agak bingung dengan pembawaan cerita. Too much sight seeing maybe, tapi sayang juga kalau pemandangan vintage ala Italia dilewatkan begitu saja, hehehe. (nah loh..jadi labil kan gw :D). Menonton film ini juga cukup bisa membuat saya tertawa, terutama di bagian-bagian saat Claire menemui Lorenzo Bartollini yang salah. Kelihatan banget kekonyolan khas Italia, yang sok romantis, sudah tua tapi masih suka flirt sana sini, hadeeh. Amanda Seyfried tampil sangat cantik disini, wardrobe fashionnya juga keren, simple tapi lucu. Tapi yang paling bikin saya kagum justru adalah Vanessa Redgrave yang walaupun sudah tua tapi masih keliatan cantik, pas banget untuk jadi pemeran Claire. Gael Garcia Bernal, pemeran Victor juga sudah ok, very italiano. Sayangnya kharisma khas pria British kurang sukses ditampilkan oleh Christoper Egan. Too bad, since i always love British guy. hahaha

Overall, film ini masih bisa dibilang lumayan baguslah. Bisa bikin penontonnya terhibur, dan ceritanya juga lumayan inspiratif. Favorit saya di film ini adalah tagline “Cold as fish..”, yang menggambarkan kalau pria British itu cenderung dingin. Hey, karena @nicsap itu dingin makanya saya ngefans *eh? (mulai ngelantur). Kalau cewek mungkin akan berpikir, asik juga jadi Sophie bisa menjadi saksi mata kisah cinta sejati puluhan tahun, plus dapet bonus cowok ganteng. hahaha. Dah dulu ah reviewnya sebelum saya membacot lagi disini. Sempetin nonton film ini yaa... ;)
Director : Gary Winick.
Casts     : Amanda Seyfried, Christoper Egan, Vanessa Redgrave, Gael Garcia Bernal.
My Rate :
1.    It’s a must see!!
2.    Film ini seruu..
3.   Lumayan deh buat weekend.
4.    Pinjem dvd-nya aja.
5.    Mending tunggu filmnya maen di tv.

Sabtu, 11 September 2010

Sang Pencerah (2010)


"Tugas manusia di dunia adalah menjadi khalifah : pemimpin untuk dirinya sendiri"

Pada abad ke 19, kehidupan islam di Jogjakarta mengarah kepada bi'dah. Selain itu rakyat kecil hidup di dalam lingkaran kemiskinan dan kebodohan dan ditambah lagi dengan adanya sistem kerja paksa oleh kolonial Belanda. Sementara itu pihak bangsawan justru termakan politik Belanda, semakin mendekatkan diri kpd Belanda dan memisahkan jurang antara kaum priyayi dan rakyat. Para pemuka agama Islam pun tak dapat berbuat banyak, terlebih lagi banyak diantara mereka terbuai kpd kekuasaan yang diberikan pihak keraton.

Pada usia 15th, muh darwis (iksan), ingin menunaikan ibadah haji dan ingin memperdalam ajaran agama islam di mekkah, dengan harapan sekembalinya dari Mekkah ia dapat membawa perubahan kepada masyarakatnya. 5 Tahun kemudian ia kembali ke Jogja dan mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Dan ia pun diangkat menjadi khatib masid besar Kauman oleh keraton.

Ajaran Hj.Ahmad Dahlan membawa kontroversi di kalangan ulama besar, krn dianggap terlalu modern dan melenceng dari nilai yg biasa dianut masyarakat setempat. Salah satu perubahan terbesar yg dibawa oleh beliau adalah memperbaiki posisi Kiblat yg salah dan mendapat tentangan besar dari ulama2 besar lainnya. Bahkan langgar tempat beliau mengajar agama sempat dihancurkan dan dituduh sebagai kafir. Peristiwa menyakitkan itu sempat membuat beliau putus asa, namun dengan dukungan orang2 terdekatnya beliau akhirnya bangkit dan tetap meneruskan perjuangannya.

KH.Ahmad Dahlan kemudian menyatakan mundur dr kepengurusan Masjid Besar. Bersama para murid setianya, ia meneruskan syiar agama. Beliau juga mendekatkan diri kpd perkumpulan Boedi Oetomo untuk bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Beliau bahkan berhasil memasukkan ajaran agama Islam ke dalam kurikulum sekolah Belanda. Bersama para muridnya, Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Islam modern pertama di Jogjakarta. Dan dengan bantuan Boedi Oetomo, beliau mendirikan organisasi Islam bernama Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan dan kemanusiaan. Secara perlahan, dengan kegigihan dan keteguhan hati beliau, ajarannya mulai dapat diterima oleh masyarakat bahkan pada akhirnya mendapat pengakuan dari para Ulama besar.

Jalan cerita film ini sangat bagus. Menceritakan sejarah dengan kilasan cerita yang ringkas tapi tetap sesuai dengan porsinya, tanpa mengurangi makna cerita dan syiar agama. Film ini menyampaikan perjuangan dan syiar agama tanpa ada kesan menggurui ataupun menyudutkan pihak tertentu sehingga cocok untuk ditonton siapa saja bahkan bagi mereka yang non muslim atau non muhammadiyah.
Secara pribadi, film ini tidak hanya sekedar menghibur, bahkan bisa dikatakan membuka mata saya tentang banyak hal. Agama, kemanusiaan dan tentang keteguhan hati.
Dengan plot cerita yang baik, pembawaan cerita yang menarik, musik yang juga sangat bagus dan sesuai, serta didukung pula oleh akting pemain-pemainya yang maksimal (exclude ZaskiaAdyaMecca, i never like the way she acts. No offense! =D) maka menurut Saya film garapan Hanung Bramantyo ini manjadi film yang wajib ditonton dan merupakan salah satu film indonesia terbaik. So, don't waste your time, just go to the movie and feel the excitement and get the valuable life lessons.

Director : Hanung Bramantyo

Casts : Lukman Sardi, Slamet Raharjo, Ikranegara, Giring Nidji, Mario, Zaskia, Dennis Adhiswara.

My Rate :
1.It's a must see!!! ♥
2.Film ini seruu..
3.Lumayan deh buat weekend.
4.Pinjem dvd-nya aja.
5.Mending tunggu filmnya maen di tv.

PS: so sorry for lack of writing review. Krn gw nulisnya lwt blackberry, jadi gak bisa diedit banyak fontnya dan bahkan gw gak bisa insert picture. Gambarnya nyusul ya.

Kamis, 19 Agustus 2010

Jump (2009)



Jump adalah film komedi tentang sang seorang gadis desa di pedalaman Cina, bernama Pheonix yang ingin mengejar cita-citanya di kota besar.
Ia tinggal oleh ayahnya yang merupakan seorang ahli kungfu, setelah kematian ibunya Pheonix dibesarkan dan diajarkan ilmu-ilmu kungfu namun cita-cita sebenarnya adalah menjadi penari.
Suatu hari tawaran untuk bekerja di kota besar pun datang, tanpa pikir panjang Pheonix mengajukan diri dan ia terpilih untuk ikut ke kota.
Ia bekerja di pabrik garmen bersama teman-temannya, namun Pheonix tidak pernah melupakan cita-citanya untuk menjadi penari terkenal. Selain bekerja di pabrik pada siang hari, malamnya ia juga bekerja paruh waktu sebagai cleaning service di sekolah hip-hop dance. Sambil bekerja Pheonix secara diam-diam mempelajari teknik tarian hip-hop. Pelajar disana tidak suka dengan kelakuan Pheonix yang secara diam-diam ikut belajar sehingga mereka sering sekali menghina Pheonix yang hanya seorang cleaning service.
Tapi kemudian, suatu hari secara tidak sengaja Ron, cowok play boy dan kaya, pemilik sekolah tersebut melihat bakat tari Pheonix akhirnya memberi beasiswa untuk belajar tari.
Pheonix yang polos pada akhirnya terlibat dalam hubungan asmara dengan Ron. Pada masa-masa penting menjelang kompetisi hip-hop, hubungan mereka mengalami masalah sehingga mempengaruhi performance Pheonix dalam menari. Pheonix pun harus menentukan apa yang harus ia lakukan untuk dirinya dan mimpi-mimpinya.

It's so 'Step Up' wannabe. Lihat saja mulai dari tokoh utama yang diceritakan memiliki bakat alam menari yang sangat hebat, kemudian terlibat dalam hubungan asamara dengan tokoh pria yang kaya, bikin kita teringat dengan tokoh Andie di Step Up2. Belum lagi di film ini tokoh utamanya jadi cleaning service yang kemudian membuka jalannya untuk belajar tari di sekolah terkenal, jadi inget sama Tyler di Step Up. Film ini kurang kreatif dalam hal megadaptasi cerita, kalo mau copy cat, harusnya tetep kreatiflah biar masih kerasa ciri khas film ini.
Oh lupa, ciri khas film ini, Kungfu. Kalo dilihat sekilas idenya adalah menggabungkan tarian hio-hop dengan teknik kungfu. Hal tersebut dapat dilihat pada bagian akhir film, hasilnya lumayanlah, tapi masih kurang greget. Kungfu dan hip-hopnya kurang menyatu, agak kayak jalan sendiri-sendiri.
Satu lagi, film ini kan film komedi, tapi sayangnya nuansa komedinya hanya terasa di bagian-bagian awal film saja. Mulai tengah-tengah dan seterusnya kebanyakan drama, jadi kesannya nanggung. Dramanya nanggung, komedinya nanggung, ceritanya juga nanggung. Gak asik ah.... *jahat* (gw kok sok banget, padahal gak pernah bikin film, hehehe)
Padahal ya...Daniel Wu udah ganteng banget, sampe drolling2 ngeliatnya. Mungkin harusnya Stephen Chow turun langsung jadi sutradaranya biar film ini gregetnya lebih kerasa.Mending nonton di tv aja deh, palingan bentar lagi juga keluar di tv nasional. Oh iya, ada penampilan Edison Chen juga lho.

Casts      : Daniel Wu, Kitty Zhang Yuqi, Leon Jay
Director  : Stephen Fung.

Rate : 2,5/5



                                                                             pheonix on  final dance


                                                             Stephen Fung ganteng!!! *drolling*

Jumat, 13 Agustus 2010

TEMPLE GRANDIN (2010)


“My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them.”



Film ini menceritakan tentang Temple Grandin, seorang autis yang cara berpikirnya berbeda dari kebanyakan orang. Dia melihat dunianya dalam bentuk visual, mengingat segala hal dalam potongan-potongan gambar yang detail. Dia bahkan bisa mengingat seluruh isi halaman buku hanya dengan melihatnya saja, karena cara berpikirnya cenderung seperti mem-foto objek. Namun ia memiliki masalah dalam berhubungan dengan lingkungan sosial. Keterbatasannya itu tidak jarang membawanya ke dalam konflik dengan teman-temannya sehingga ia sempat dikeluarkan dari sekolah. Beruntung ibunya kemudian menemukan sebuah sekolah asrama yang mempertemukannya dengan Prof.Carlock., seorang guru science yang menjadi sahabat Temple. Prof.Carlock inilah yang menemukan bakat terpendam Temple dalam hal science, dan membimbing Temple menjadi seorang murid yang brillian.

Pada suatu musim panas, Temple berkunjung ke peternakan Bibinya dan ia banyak belajar berinteraksi dengan hewan. Dari pengamatannya pada hewan ternak bibinya, ia kemudian menemukan ‘squeeze machine’ yaitu sebuah mesin yang dapat membantunya menenangkan diri di saat sedang gelisah dan menjadi penemuan pertamanya. Ia juga belajar memahami emosi hewan, dan ia merasa nyaman jika berada di sekeliling hewan ternak bibinya.

Berbekal pengalamannya di sekolah asrama dan peternakan bibinya, ia kemudian meneruskan pendidikan ke fakultas science, kemudian mengambil master peternakan dan juga berhasil mendapat gelar doktoral. Temple menemukan sistem pemotongan hewan ternak yang lebih baik serta efisien bagi hewan dan pengusaha. Ia menjadi seorang ahli dalam perilaku hewan ternak, dan membuktikan pada dunia bahwa autis bukanlah sesuatu yang mengerikan, seorang autis hanya memiliki cara pandang yang berbeda dan mereka juga bisa membuat hidup mereka bermanfaat bagi lingkungan seperti halnya orang-orang lainnya.



Film yang diangkat dari kisah nyata ini sebenarnya bukan film bertema autis pertama yang saya tonton, tapi film ini, menurut saya memiliki jalan cerita yang lebih positif. Yang saya paling suka adalah, walaupun sebagai seorang autis yang cenderung memiliki banyak hambatan, tetapi dalam film ini sikap optimis tokoh2nya lebih ditonjolkan, jadi kesan yang saya rasakan terhadap tokoh utamanya adalah kagum, tidak hanya simpatik atau drama berlebihan yang biasanya diangkat pada film bertema autistic lain. Film ini dapat membuka mata kita, bahwa autis itu bukan penyakit, mereka hanya berbeda dan mereka juga bisa hidup mandiri sama seperti kita, mereka juga bisa berhasil kalau mereka memiliki kemauan, mereka tidak aneh, freak atau bodoh karena mereka hanya berbeda. Seperti kata Mrs.Grandin dalam film ini “different, but not less”. Bahkan dalam banyak kasus seorang autis bahkan bisa lebih cerdas daripada orang lainnya.

I think we should watch this movie, it can open a new perspective about life. So, enjoy....and see the positive energy that Temple brought us through her amazing life journey.



Director : Mick Jackson

Casts : Claire Danes, Julia Ormond, David Strathairn, Charles Baker, Catherine O’Hara

Rate : 4,5/5
 

Blog Template by YummyLolly.com